Selasa, 12 April 2011

Implikasi al-Iman bil-Yaumil Akhir Terhadap Pembentukan Pribadi yang Muttaqin.

Pendahuluan

Islam adalah agama allah yang diwahyukan kepada nabi muhammad saw. Dan islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan. Keimanan merupakan akidah dan pokok, yang diatasnya berdiri syariat islam. Kemudian dari pokok itu keluarlah cabang-cabangnya.

Keimanan dan perbuatan, atau dengan kata lain akidah dan syariat. Keduanya itu antara satu dengan yang lain sambung-menyambung, hubung-menghubungi, dan tidak dapat berpisah yang satu dengan yang lainnya. Keduanya adalah sebagai buah dan pohonnya. Sebagai musabbab dengan sebabnya atau sebagai hasil dengan mukaddimahnya. Oleh karena adanya hubungan yang amat erat itu, maka amal perbuatan selalu disertakan penyebutannya dengan keimanan dalam sebagian besar ayat-ayat alqur’an alkarim.

Keimanan seseorang yang besar tentunya akan menjadikannya sebagai pribadi yang muttaqin. Akar keimanan yang begitu kuat tentunya akan membuat diri seorang muslim menjadi kokoh. Semua perbuatannya selalu berlandaskan teori agama, sehingga ia jauh dari kemungkaran.

Islam telah mewajibkan umatnya untuk mengimani enam hal yang disebut dengan rukun iman. Diantara keenam iman tersebut ada dua bentuk keimanan yang sangat besar pengaruhnya terhadap managemen tingkah laku manusia yaitu iman kepada allah dan iman kepada hari akhir. Karena begitu pentingnya dua bentuk keimanan ini, alqur’an menyebutkannya paling banyak bila dibandingkan dengan bentuk-bentuk keimanan yang lain.

Sedikit orang yang menyadari betapa besar pegaruh keimanan kepada perbuatan mereka, sehingga merekapun akhirnya tidak begitu peduli kepada keimanan mereka. Oleh karena itu, dalam makalah ini pemakalah akan mencoba menguraikan betapa besar pengaruh keimanan terhadap perilaku manusia, khususnya iman kepada hari akhir. Serta konsep-konsep dasar yang melatarbelakanginya.

Rumusan Masalah

Agar nantinya pembahasan dalam makalah ini bisa fokus pada pokok permasalahan dan pengembangannya tidak melebar begitu jauh, maka pemakalah membatasi rumusan masalahnya sebagai berikut:

Ø Konsep dasar iman kepada hari akhir

Ø Proses pembentukan pribadi muslim

Ø Konsep takwa

Ø Pengaruh iman kepada hari akhir terhadap pembentukan pribadi yang muttaqin

Pembahasan

Konsep Dasar Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman yang utama selain iman kepada Allah swt. Menurut Prof. Dr. Quraisy Syihab, dalam bukunya Wawasan Al-Quran halaman 80, dua rukun iman inilah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Quran. Terbukti al-Quran selalu menyebutkan Iman kepada Hari Akhir dan Iman kepada Allah selalu bersamaan dan berurutan. Diantaranya adalah ayat-ayat berikut.

Al-Quran surat al-Baqarah (2) ayat 8 :

z`ÏBur Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ $¨YtB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$$Î/ur ̍ÅzFy$# $tBur Nèd tûüÏYÏB÷sßJÎ/ ÇÑÈ

Artinya:
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Q.S. al Baqarah ayat 8)

Al-Quran surat al-Taubah (9) ayat 8 :

y#øŸ2 bÎ)ur (#rãygôàtƒ öNà6øn=tæ Ÿw (#qç7è%ötƒ öNä3Ïù ~wÎ) Ÿwur Zp¨BÏŒ 4 Nä3tRqàÊöãƒ öNÎgÏdºuqøùr'Î/ 4n1ù's?ur óOßgç/qè=è% öNèdçŽsYò2r&ur šcqà)Å¡»sù ÇÑÈ

Artinya :

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. al Taubah ayat 8)

Al-Quran surat al-Maidah (5) ayat 69 :

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä šúïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd tbqä«Î6»¢Á9$#ur 3t»|Á¨Y9$#ur ô`tB šÆtB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ Ÿxsù ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd tbqçRtøts ÇÏÒÈ

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(Q.S. al Maidah ayat 69)

d. Al-Quran surat al-Baqarah (2) ayat 177 :

* }§øŠ©9 §ŽÉ9ø9$# br& (#q9uqè? öNä3ydqã_ãr Ÿ@t6Ï% É-ÎŽô³yJø9$# É>̍øóyJø9$#ur £`Å3»s9ur §ŽÉ9ø9$# ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ̍ÅzFy$# Ïpx6Í´¯»n=yJø9$#ur É=»tGÅ3ø9$#ur z`¿ÍhÎ;¨Z9$#ur tA#uäur tA$yJø9$# 4n?tã ¾ÏmÎm6ãm ÍrsŒ 4n1öà)ø9$# 4yJ»tGuŠø9$#ur tûüÅ3»|¡yJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# tû,Î#ͬ!$¡¡9$#ur Îûur ÅU$s%Ìh9$# uQ$s%r&ur no4qn=¢Á9$# tA#uäur no4qŸ2¨9$# šcqèùqßJø9$#ur öNÏdÏôgyèÎ/ #sŒÎ) (#rßyg»tã ( tûïÎŽÉ9»¢Á9$#ur Îû Ïä!$yù't7ø9$# Ïä!#§ŽœØ9$#ur tûüÏnur Ĩù't7ø9$# 3 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#qè%y|¹ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd tbqà)­GßJø9$# ÇÊÐÐÈ

Artinya :

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Q.S. al Baqarah ayat 177)

Dengan demikian terlihat bahwa keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan iman kepada hari akhir. Menurut Prof.Quraisy Syihab keimanan kepada Allah tidak sempurna kecuali dengan keimanan kepada hari akhir. keimanan kepada Allah menuntut adanya amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna motivasinya dengan adanya keimanan tentang adanya hari akhir. Karena kesempurnaan ganjaran dan balasannya hanya ditemukan di akhirat nanti. Untuk memperkuat argumennya, beliau menyatakan bahwa kata “yaumul akhir” saja terulang 24 kali, disamping kata "akhirat” terulang 115 kali dalam Al-Quran.

Selain itu Al-Quran selalu menggugah hati dan pikiran manusia dengan menggambarkan peristiwa-peristiwa hari akhirat, dengan nama-nama yang unik, misalnya “al-Zalzalah”, “al-Qari’ah”, an-Naba’, al-Qiyamah”. Istilah-istilah (yang menjadi nama surat Al-Quran) itu mencerminkan peristiwa dan keadaan yang bakal dihadapi oleh manusia pada saat itu, dengan tujuan agar manusia beriman kepada Allah dan hari akhirat, karena manusia akan bertemu Allah, dan manusia pasti akan mati, karenanya manusia jangan lengah, lupa diri, jangan terpesona dengan kehidupan dunia yang temporal dan menipu, manusia jangan mempertuhankan harta, karena harta tidak dapat menolong pemiliknya dari siksa Allah di hari akhirat.

Disamping itu banyak hadis-hadis rasulullah dengan kwalitas yang berbeda selalu mengkaitkan kesalehan sosial seseorang dengan kemantapan iman kepada Allah dan hari akhir.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Hadis tentang kemampuan seseorang untuk selalu bertutur kata yang baik, atau lebih baik diam jika tidak mampu melakukannya, adalah :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لِيَصْمُتْ )رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِم عَنْ اَبِى هُرَيْرَة(

Artinya :

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia selalu bertutur kata yang baik atau lebih baik diam”.(H.R.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

2. Ketulusan seseorang dalam menghormati tamu adalah cermin imannya.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِم عَنْ اَبِى هُرَيْرَة(

Artinya :

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. ”.(H.R.Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

3. Manisnya iman adalah lari dari fitnah.

عَنْ اَبِيْ سَعِيْد الخُدْ رِى أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوْشِكَ اَنْ يَكُوْنَ خَيْرُ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتَّبِعُ بِهَا شَعْفُ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعُ الْقِطْرِ يَفِرُّ بِدِيْنِهِ مِنَ الْفِتَن

Artinya :

Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra. Bahwasanya ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Hampir-hampir sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing yang mana ia mengikutinya di pucuk gunung dan tempat yang mendapat hujan dimana ia melarikan agamanya dari fitnah.


Perilaku yang tercermin dari ketiga hadis tersebut, tercapai apabila seseorang memiliki kemantapan iman kepada Allah dan hari akhirat.

Menurut istilah alqur’an yang disebut sebagai iman adalah Dasar pemikiran bagi perjalanan dan kehidupan praktis umat manusia. Kata iman itu sendiri terdiri dari tiga huruf asal: hamzah, mim, nun yang merupakan kata-kata dari masdar al-amm (keamanan) lawan dari al-khouf (ketakutan). Iman mengandung arti ketentraman kalbu, yang dari kata itu pula muncul kata al-amanah (bisa dipercaya) lawan kata dari al-khianah (keingkaran).

Yang dimaksud dengan keimanan seseorang terhadap sesuatu, adalah bahwa dalam hati orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan keyakinan tentang sesuatu, dan sejak saat itu ia tidak khawatir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaannya. Sedangkan yang dimaksud dengan lemah iman adalah orang yang hatinya tidak pernah mengenyam ketentraman yang sempurna, yang karena itu pula tidak ada jaminan keamanan terhadap masuknya kepercayaan-kepercayaan lain yang bertentangan dengan keperyaannya. Akibatnya, sepak terjangnya menjadi lemah dan dalam kehidupan praktisnya muncul berbagai bentuk kontradiksi, kekalutan, dan ketidakpraktisan. Lalu, yang disebut kuat iman adalah orang yang sesudah menanamkannya keyakinannya, membangun sepak terjang hidupnya diatas asas yang kokoh dan kuat yang betul-betul bisa dijadikan pegangan serta memberikan jaminan ketentraman bahwa amal-amal yang ia laksanakan pasti sesuai dengan keyakinan itu.

Yang dimaksud hari akhir adalah kehidupan sesudah mati. Ia disebut pula dengan kehidupan kampung akhirat, yang telah disebut alqur’an dalam banyak ayatnya. Alqur’an telah menjelaskannya, dan terus menerus menanamkan keimanan ini dalam hati umat manusia, lalu menegakkan berbagai bukti atas kebenarannya, serta menerangkan hikmah dan fungsinya. Sesudah itu ia mengajak mereka untuk beriman kepadanya, dan dengan tegas menyatakan bahwa apabila manusia tidak percaya kepadanya, amal perbuatannya di dunia adalah sia-sia, dan tiada bentuk kerugian lain yang paling besar di dunia ini, kecuali hal itu. Alqur’an menegaskan:

šúïÏ%©!$#ur (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ Ïä!$s)Ï9ur ÍotÅzFy$# ôMsÜÎ6ym öNßgè=»yJôãr& 4 ö@yd šc÷rtøgä žwÎ) $tB (#qçR%x. šcqè=yJ÷ètƒ ÇÊÍÐÈ

Artinya:

dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi Balasan selain dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. al a’rof ayat 147)

ôs% uŽÅ£yz tûïÏ%©!$# (#qç/¤x. Ïä!$s)Î=Î/ «!$# ( #Ó¨Lym #sŒÎ) ãNåkøEuä!%y` èptã$¡¡9$# ZptFøót/ (#qä9$s% $oYs?uŽô£ys»tƒ 4n?tã $tB $uZôÛ§sù $pkŽÏù öNèdur tbqè=ÏJøts öNèdu#y÷rr& 4n?tã öNÏdÍqßgàß 4 Ÿwr& uä!$y $tB tbrâÌtƒ ÇÌÊÈ

Atinya:

sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan Pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang

kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(Q.S. al-an’am ayat 31)

secara estimologi kata âkhirah (آخِرَة) berasal dari kata al-âkhir (الآخِر) yang berarti lawan dari al-awwal (الأوَّل) atau “yang terdahulu”. Kata itu juga be­rarti “ujung dari sesuatu”, yang biasanya menunjuk pada jangka waktu

Keyakinan terhadap hari akhir yang dikemukakan dalam bentuknya yang sedemikian penting ini pada hakikatnya merupakan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam hati semua orang, dan membangkitkan fitrahnya yang telah dianugrahkan oleh allah.

Hari akhir yakni hari kiamat itu didahului dengan musnahnya alam semesta ini. Jadi pada hari itu akan matilah seluruh mahluk yang masih hidup. Bumipun akan berganti, bukannya bumi dan langit yang sekarang ini.

Selanjutnya allah swt lalu menciptakan alam lain yang disebutnya alam akhirat . disitulah seluruh mahluk akan dibangkitkan yakni dihidupkan lagi setelah mereka mati. Ruhnya dikembalikan dalam tubuhnya dan dengan demikian mereka akan mengalami kehidupan yang kedua kalinya.

Setelah dibangkitkan setiap jiwa akan dihisab seluruh amal perbuatannya baik yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu, maka barang siapa yang berat kebaikannya melebihi berat keburukannya, tentulah oleh allah akan dimasukkan dalam surga, sedangkan apabila kenyataannya berkebalikan maka mereka akan dimasukkan allah ke dalam neraka.

Proses Pembentukan Pribadi Muslim

Ketika membahas kepribadian, sering kali dihubungkan dengan penampilan fisik seseorang, seperti bagaimana cara berjalan seseorang, bagaimana gaya dia dalam berpakaian, bagaimana cara makan. Sebagian besar orang beranggapan bahwa orang yang menggunakan pakaian bagus, mahal dan elegant, itulah orang yang berkepribadian tinggi, meskipun dia jauh dari ketaqwaan terhadap Allah. Dan sebaliknya orang yang pakainnya biasa saja, bahkan bisa dikatakan kumuh, namun masjid merupakan rumah utama dia, dan Allahlah menjadi pelindungnya, dia disebut orang yang kepribadian rendah, bahkan bisa disebut orang yang tidak berkepribadian.

Setiap manusia memiliki dua hal yang nampak pada dirinya yang pertama, berkaitan dengan penampilan fisiknya, seperti bentuk tubuh, wajah dan pakaian. Kedua, berkaitan dengan aktivitas dan gerak-gerik manusia. Bagian manakah yang menentukan kepribadian seseorang, sehingga bisa disebut orang yang mempunyai kepribadian luhur atau orang yang memiliki kepribadian binatang. Apakah penampilannya seperti pendapat orang kebanyakan saat ini? atau apakah aktivitasnya?

Kepribadian Islam Kalau kita perhatikan lebih jeli tentang apa yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah perbuatannya. Kita sering kali mengidentikan sifat seseorang dengan perbuatannya. Jarang sekali kita mengidentikkan seseorang dengan penampilan fisiknya, karena yang paling menonjol dari seseorang itu memanglah perbuatannya. Dan perbuatan inilah yang membedakan antara mansia yang satu dengan manusia yang lainnya. Kumpulan dari perbuatan yang merupakan gambaran dari tingkah laku itulah yang menentukan tinggi rendahnya kepribadian seseorang. Sedangkan tingkah laku seseorang sangat ditentukan oleh apa yang dipahaminya, sehingga tingkah laku itu pastinya tidak akan pernah terpisah dengan apa yang dipahami seseorang.

Tingkah laku adalah aktifitas yang di lakukan dalam rangka memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya. Meskipun yang mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan adalah kebutuhan jasmani dan naluri, namun tidak secara langsung dorongan tersebut akan dipenuhi oleh manusia. Sebab, yang menentukan apakah dorongan tersebut dipenuhi atau tidak adalah kecenderungan dan pemahaman orang tersebut. Oleh karena itu, yang yang membentuk kepribadian seseorang itu sesungguhnya adalah pemahamannya terhadap sesuatu serta kecenderungannya pada realita tersebut. Atau dengan istilah lain kepribadian manusia itu merupakan akumulasi daripada aqliyah dan nafsiyahnya.

Inilah yang digambarkan oleh Rosulullah SAW dalam sebuah hadist riwayat Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan menilai atas rupa kamu serta harta kekayaan kamu, akan tetapi Dia hanya menilai hati dan amal perbuatan kamu”[HR Muslim dan Ibnu Majah]

Unsur kepribadian manusia yang pertama adalah Aqliyah. Kata Aqliyah berasalah daripada bahasa Arab, yaitu dari kata aqal. Sedangkan pengertian aqal adalah kemampuan untuk memutuskan realita tertentu, baik yang berkenaan dengan perbuatan maupun benda, yang didasarkan pada pandangan hidup tertentu. Sehingga makna aqliyah didefinisikan sebagai cara yang digunakan untuk memahami atau mengambil kesimpulan tentang suatu realita atau fakta tertentu. Sehingga perbedaan aqidah seseorang maka akan terjadi pula perbedaan aqliyah. Apabila aqidah seseorang adalah Islam maka aqliyahnya-pun merupakan aqliyah Islam. Namun itupun dengan ketentuan bahwasannya aqidah tersebut dijadikan sebagai asas berfikirnya. Sebab, adakalanya seseorang secara zahir beraqidah Islam, tetapi aqidah tersebut tidak digunakan sebagai asas berfikirnya, maka aqliyah orang tersebut bukan aqliyah Islam.

Unsur kedua adalah Nafsiyah, berasal dari kata nafsu, sedangkan nafsu itu sendiri maknanya sama dengan hawa, yaitu kecenderungan yang ada didalam diri manusia untuk melakukan sesuatu, karena dorongan jasmani dan nalurinya berdasarkan standart tertentu (Pada aqidah tertentu). Dengan demikian nafsiyah-lah yang menjadikan manusia terdorong melakukan perbuatan atau meninggalkannya. Sehingga nafsiyah seseorang itu dikontrol oleh pemahaman dia terhadap sesuatu, atau dengan kata lain nafsiyah seseorang berdasarkan pada aqidahnya. Sehingga perbedaan aqidah pastilah akan menyebabkan perbedaan nafsiyah.

Kepribadian Islam merupakan kepribadian yang unik, dimana aqliyah dan nafsiyahnya berasal dari jenis aqidah yang sama, yaitu aqidah Islam. Meskipun kuat dan lemahnya kepribadian tersebut berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda.

Seorang muslim dikatakan telah memiliki sikap jiwa Islami apabila telah bertekad untuk me­ngubah sikap hidupnya secara total mengikuti Islam dan isti­qomah. Ketika ada orang me­minta nasihat kepada Rasulullah saw. yang dengan nasihat itu dia tidak bertanya lagi, beliau saw. menjawab: “Katakanlah aku beriman kepada Allah, lalu bersikaplah istiqomah.” [HR. Muslim]. Asal orang sudah bertekad seperti itu, dia dikatakan telah memiliki sikap jiwa Islami (naf­siyah islamiyah) sekalipun belum banyak beribadah. Sekalipun dia baru melaksanakan sholat wajib dan sedikit sholat sunnah. Se­kalipun dia baru belajar sholat tahajjud. Sekalipun dia baru be­lajar membaca Al Fatihah dan Qulhu.

Sikap jiwa dan istiqomah untuk selalu mengendalikan perilaku dengan ajaran Islamlah yang membuat seorang memiliki sikap jiwa Islami. Rasulullah saw. bersabda: “Tiada beriman salah seorang di antara kamu sehingga memper­siapkan hawa nafsunya mengi­kuti ajaran Islam yang kubawa.” [HR. An-Nawawi]. Meningkatkan kualitas kepribadian Islam Namun untuk mencapai ke­sempurnaan hidup, agar men­jadi manusia yang lulus terbaik dalam ujian Allah SWT dalam kehidu­pan di dunia, seorang muslim ti­dak boleh hanya berhenti di te­kad atau status telah memiliki ke­pribadian Islam. Tapi dia harus memiliki tekad untuk menyem­purnakan dirinya menjadi muk­min yang muttaqin. Oleh karena itu, langkah ketiga, seorang muslim itu mem­bina cara berfikir Islaminya de­ngan meningkatkan pengetahu­annya tentang ilmu-ilmu Islam, baik aqidah Islamiyah itu sendiri, Al Qur’an, As Sunnah, Tafsir ayat-ayat Al Qur’an, Fiqh, hadits, siroh, bahasa Arab dan lain-lain yang diperlukan untuk mening­katkan kualitas cara berfikirnya yang senantiasa menghubung­kan segala sesuatu yang difikir­kannya dengan informasi Islam.

Seorang muslim perlu me­nambah keyakinannya dengan tambahan pengetahuan tentang aqidah Islam dari Al Qur’an mau­pun As Sunnah. Dia akan mene­mukan Allah SWT menyatakan bahwa agama Islamlah yang diridloi oleh Allah dan mencari agama selain Alloh adalah keru­gian yang besar. Dalam Quran Surat Ali Imron 19 dan Quran surat Ali Imran 85.Dengan keyakinan ini dia akan menjaga keislamannya sampai akhir hayatnya sebagaimana tun­tunan Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebe­nar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Isla.” (Qs. Ali-Imran [3]: 102).

Untuk bisa sebenar-benar­nya taqwa dan beristiqomah sampai akhir hayat, maka sikap totalitas dalam hidup secara Islam harus dicanangkan. Seba­gaimana firman Allah dalm Qs. al-Baqarah [2]: 208. Dia sadar harus menerima dan memahami petunjuk Allah yang berkaitan dengan sikap dan perilakunya secara total, tidak pilih-pilih. Sebab pilih-pilih akan membuat fatal, tersesat dari jalan Allah, dan berujung kepada kehi­naan dan kesengsaraan. Dari se­mangatnya membolak-balik lem­baran Al Qur’an seorang muslim akan menemukan firman-Nya: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian da­ripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pa­da hari kiamat mereka dikem­balikan kepada siksa yang sa­ngat berat.” (Qs. al-Baqarah [2]: 85).

Konsep taqwa kepada allah

Takwa kepada allah yaitu taqwa yang mencakup di dalamnya perasaan takut kepada Allah saja dan merasakan hati bersimpuh hanya kepada-Nya, yaitu firman Allah : “Wahai Nabi bertaqwalah kepada Allah” maksudnya senantiasalah kamu untuk bertaqwa kepada Allah dan takutlah akan azab-Nya jika berpaling dari-Nya.

Ust. DR. Muhammad Adib Salih berkata : “Pada hakekatnya kedudukan taqwa sangatlah besar disisi Allah, dan sangat dituntut untuk selalu menyertai pada tiap gerak langkah manusia disetiap lini kehidupannya, tidak boleh sedikitpun ditinggalkan satu sisi dengan sisi yang lainnya, pada hubungan manusia dengan manusia lainnya, serta pada kehidupan individu dengan jamaah”.

Tema taqwa dalam ayat Al-Quran banyak disebutkan hingga mencapai 250 kali. Kadang digunakan sesuai makna harfiahnya yaitu terpelihara dan terjaga. Misalnya dalam firman Allah :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالاً وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَاناً وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ

”Dan Allah telah menjadikan bagimu tempat bernaung adri apa yang Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya)”. (An-Nahl : 81)

Maksudnya adalah bahwa Allah telah menjadikan rumah, pohon dan awan untuk berteduh dari sengatan sinar matahari, dan menjadikan gunung-gunung sebagai tempat tinggal seperti gua, lubang atau terowongan, dan menjadikan baju besi sebagai tameng dari tikaman pisau dan pedang, panah dan pukulan dalam perang, dan menjadikan pakaian dari kain, katun (kapas), kulit untuk memelihara dari udara dingin dan panas. Seperti yang difirmankan Allah :

فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Maka Allah mengkaruniakan kepada kami dan memelihara kami dari azab yang penuh racun”. (At-Thur : 27)

Secara harfiah kata taqwa berasal dari isim waqo-yaqi-wiqoyatan ; memelihara dan menjaga, contohnya ; waqohullah waqyan wawiqayatan ; menjaganya dan memeliharanya –huruf ta sebagai penggnati dari huruf wa dan huruf wa sebagai pengganti dari ya-, dan ungkapan ; waqohullah wiqoyatan ; menjaganya, menunjukkan adanya mempertahnkan sesuatu dari sesuatu. Seperti Rasulullah saw bersabda :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Peliharalah dirimu dari api neraka walau dengan (memberikan) sepotong kurma”. (HR. Bukhari, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dan Ahmad)

Dan juga firman Allah :

هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ

“Dialah golongan orang yang bertaqwa dan golongan yang mendapatkan magfirah” (Al-muddatsir : 56)

Maksudnya adalah mereka golongan yang terpelihara dari azab Allah dan golongan yang beramal demi mendapatkan ampunan-Nya. Dalam ungkpan arab disebutkan : “seseorang bertaqwa” berarti dia memelihara dirinya dari dosa dan maksiat dengan amal salih. Jadi pengertian taqwa adalah kata yang memiliki pengertian universal yang berarti melakukan segala perbuatan baik dan menjauhi segala larangan.

Demikianlah pengertian taqwa secara harfi, adapun yang menjadi konsentrasi adalah hendaknya beberapa pemahaman diatas dapat diaplikasikan dalam kehidupan insan sehari-hari, karena taqwa merupakan kewajiban yang harus diamalkan dalam segala tindakan, perbuatan, tingkah laku dan ucapan, hilangnya taqwa dari diri insan mengindikasikan hancurnya sendi kehidupannya; baik di dunia dan di akhirat.

Adapun pengertian taqwa secara syar’i; Allah memerintahkan nabi-Nya untuk bertaqwa seperti yang termaktub diawal surat ahzab dan diayat lainnya, perintah untuk orang-orang beriman, ulul albab, bahkan kepada manusia secara menyeluruh. Kenapa demikian ? karena menghias diri dengan taqwa merupakan amal terbaik dan akan menempatkan pemiliknya pada derajat kemuliaan, mendapatkan kedekatan jiwa dengan Allah, dicintai dan diridloi, dan semua itu merupakan puncak tujuan hidup. Betapa banyak dalil-dalil yang menunjukkan tujuan manhaj Quran yang utama dalam membimbing kaum muslimin adalah taqwa dalam niat, amal dan prilaku.

Para ulama berbeda pendapat dalam membatasi pengertian taqwa secara istilah, namun pada kesimpulannya dari pengertian tersebut ingin memberi petunjuk kepada umat islam dan memotivasi mereka untuk taat dan tunduk kepada Allah, dan membekali diri dengan taqwa guna mengharap ridla Allah SWT.

Adapun beberapa pengertian taqwa adalah sebagai berikut :

1. Taqwa adalah “Mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya”[12].

2. “Talq bin Habib[13] berkata : Taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah karena hidayah Allah dan mengharap ganjaran dari-Nya, dan meninggalkan maksiat karena hidayah Allah dantakut akan azab-Nya”[14]

3. Pendapat lain menyebutkan : “Taqwa adalah adanya perasaan diawasi oleh Allah baik terhadap perbuatan yang kecil dan yang besar, dan berusaha menjaga diri dari melakukan apa-apa yang dibenci karena memuliakan Dzat Allah yang Maha Mulia”.[15]

4. Pendapat yang lainnya berkata : Taqwa adalah “segala perbuatan baik dalam ucapan dan perbuatan, yang tampak dan tersembunyi”.[16]

5. “Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Umar bin Khattab tentang taqwa ; Umar berkata : “Apa bayanganmu saat melintas jalan yang penuh duri ? beliau berkata : “Ya”. Umar berkata : “Lalu apa yang kamu lakukan ?” baliau berkata : “Saya akan berhati dan bersungguh-sungguh”. Umar berkata : “Begitulah taqwa”.[17]

6. Taqwa adalah Sikap yang tidak pernah absen dalam setiap perintah Allah dan tidak pernah hadir dalam setiap larangan-Nya.

7. Taqwa adalah Melindungi diri dari siksa Neraka dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

8. Ali bin Abi Thalib berkata : taqwa adalah perasaan takut kepada Allah, mengamalkan Al-Quran, mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat dan tawakkal penuh kepada Allah.

Dari beberapa pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa taqwa adalah pemeliharaan yang memiliki ciri khusus, yaitu memelihara diri dari murka Allah dan azab-Nya, benangnya adalah iman dan mengamalkan hukum-hukum agama dengan mentaati segala perintah dan menjauhi larangan Allah; dalam kesatuan yang bersinggungan antara perbuatan yang nyata ; istiqomah dijalan hidayah, gigih dalam ketaatan, dan perbuatan bathin (hati) ; ikhlas dalam beragama dan shiddiq (jujur dan benar) bersama Tuhan semesta alam.

Jadi, taqwa pada hakikatnya memiliki peranan yang sangat penting dan urgensi yang besar pada syariat Allah SWT, karena taqwa merupakan wasiat Allah yang disampaikan kepada seluruh umat manusia melalui para Nabi dan Rasul, ahli kitab dan kepada kita (umat Islam) dalam kitab Al-Quran, Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguhn Kami telah mewasiatkan kepada ahli kitab dan umat sebelum kalian dan kepada kalian; bertaqwalah kamu kepada Allah …” (An-Nisa : 131)

Sebagaimana Allah juga menjadikannya sebagai syarat utama mendapatkan naluri yang dapat membedakan hamba dari yang haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَاناً وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya akan diberikan kalian furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil), dan menghapus dosa-dosa kalian dan diampuni, dan Allah Maha Memiliki keuramaan yang sangat besar”. (Al-Anfal : 29)

Maksudnya adalah bahwa taqwa akan memberikan inspirasi dalam hatinya naluri menggapai petunjuk menuju jalan kebenaran dan keteguhan, mendapatkan dua ganjaran yang sangat besar; dihapusnya dosa sehingga tidak tersisa sedikitpun, baik dzahir maupun bathin, dan diampuninya dosa-dosa baik kecil maupun besar,ucapan dan perbuatan, dzahir dan bathin, rahasia dan terang-terangan.

Selain itu taqwa memiliki nilai yang sangat agung dalam perjalanan umat Islam dalam memakmurkan bumi, membangun peradaban yang tinggi, dan menghadapi berbagai rintangan serta hal-hal yang menjadi keharusan saat memperbaharui niat dan perbuatan dengan penuh keikhlasan, terutama dalam kehidupan masyarakat. “Taqwa merupakan menara hidayah bagi setiap individu dan masyarakat dalam berbagai sisi kehidupannya, modal dalam menegakkan syariat Allah dan konsepsi hal-hal yang berhubungan dengan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, disertai dengan keikhlasan niat dan amal, menghindar dari pertentangan yang dapat merusak kesucian hati”.

Taqwa juga merupakan predikat yang paling mulia disisi Allah, bekal hidup yang paling baik yang sangat dibutuhkan oleh setiap manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Dan berbekallah, karena sesungguhnya bekal yang paling baik adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah wahai yang memilki akal” (Al-Baqoroh : 197)

Pengaruh Iman Kepada Hari Akhir Terhadap Pembentukan Pribadi Yang Muttaqin

Islam menempatkan kepercayaan kepada hari akhir ini sebagai sandaran yang kokoh bagi ikatan-ikatan spiritual dan sistem syari’atnya. Di dalamnya dapat ditemukan satu sisi yang memberi dorongan logis untuk melakukan kebajikan dan amal sholeh, sedang pada sisi yang lainnya terdapat ancaman mencegah ummat manusia melakukan kejahatan dan kerusakan, dan sistem yang berlaku di sisi kelestariannya sama sekali tidak membutuhkan kekuata fisik (materi) maupun kekuasaan politik. Tetapi hal itu ditempatkannya dalam diri manusia sendiri melalui saluran iman kepada akhirat dalam hati yang hidup dan bersikap suka rela tanpa ada kekuatan apapun yang memaksanya untuk meyakininya. Juga ditempatkannya pada nilai-nilai utama dan ma’ruf yang telah ditetapkan oleh Islam berdasar akibat akhirnya yang hakiki.

Di dalam alqur’an banyak ditemukan ayat yang secara khusus mengemukakan akidah yang menyeru pada nilai-nilai keutamaan amal saleh dan moral terpuji alqur’an. misalnya, begitu mengemukakan seruan “bertakwalah kepada allah” segera diikutinya dengan “...dan ketahuilah bahwasanya kamu sekalian akan beremu dengannnya” (Qs. Al Baqoroh, ayat 223).

Alqur’an mendorong kaum muslimin agar berjuang dan mengorbankan hartanya di jalan allah. Ini disertai dengan imbalan yang amat memuaskan hati mereka berupa: manakala mereka gugur, mereka bukannya mati melainkan memperoleh kehidupan yang kekal dan abadi. Alqur’an menyatakan:

Ÿwur (#qä9qà)s? `yJÏ9 ã@tFø)ムÎû È@Î6y «!$# 7NºuqøBr& 4 ö@t/ Öä!$uômr& `Å3»s9ur žw šcrããèô±n@ ÇÊÎÍÈ

dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah ayat 154).

Alqur’an juga mengingatkan mereka untuk tidak begitu butuh pada kekayaan duniawi, tidak pula dengki kepada orang-orang kaya yang bermewah-mewahan dan kafir, sebab kekayaan dan kenikmatan hidup di dunia itu memang bukan bagian mereka. Alqur’an mengatakan kepada kaum muslim bahwa:

Ÿw y7¯R§äótƒ Ü==s)s? tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Îû Ï»n=Î6ø9$# ÇÊÒÏÈ Óì»tFtB ×@ŠÎ=s% ¢OèO öNßg1urù'tB ãM¨Zygy_ 4 }§ø©Î/ur ߊ$ygÎRùQ$# ÇÊÒÐÈ Ç`Å3»s9 tûïÏ%©!$# (#öqs)¨?$# öNßg­/u öNçlm; ×M»¨Yy_ ̍øgrB `ÏB $uhÏFøtrB ㍻yg÷RF{$# šúïÏ$Î#»yz $pkŽÏù ZwâçR ô`ÏiB ÏYÏã «!$# 3 $tBur yYÏã «!$# ׎öyz Í#tö/F|Ïj9 ÇÊÒÑÈ

janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti (QS. Ali Imran, ayat 196-198).

Seorang pribadi yang muttaqin tentunya akan selalu mengfungsikan akalnya untuk berfikir. Berfikir tentang segala hal yang dikolaborasikan dengan keyakinan akan keeksistensian allah dan hari akhir. Sehingga apapun yang ia lakukan akan selau di jalan yang lurus. Inilah yang membedakan seorang muttaqin dengan orang kafir. Sungguh sangat malang bila memiliki akal tapi tidak ber fungsi. Justru lebih baik tidak memiliki sama sekali. Ini akan bisa mengurangi atau bahkan membebaskan diri dari beban. Namun bila memiliki akal dan bisa berfungsi inilah yang benar-benar diharapkan.

Berikut efek-efek positif yang ditimbulkan keimanan kepada hari akhir:

1. Bertindak dengan penuh tanggung jawab

Begitu sulitnya buah dari fungsi iman kepada hari akhir, hal ini sudah menjadi akibat yang melekat bagi mereka yang benar-benar beriman kepada hari akhir. Mereka akan selalu berhati-hati dan waspada atas segala yang diperbuat. Dengan demikian alangkah indah hidup ini bila iman kita kepada hari akhir benar-benar berfungsi.

2. Pandangan hidup optimis

Benar-benar sungguh luar biasa, karena optimis merupakan kunci dari suatu keberhasilan baik keberhasilan di dunia maupun keberhasilan di akhirat. Maka kesimpulan sederhananya bagi mereka yang imannya kepada hari akhir bisa berfungsi, mereka tidak pernah dan tidak bakal pernah mengalami kegagalan hidup. Namun sudah barang tentu mereka yang imannya kepada hari akhir tidak berfungsi, mereka akan selalu dihantui perasaan pesimis di sepanjang masa, sehingga kegagalan demi kegagalan akan terus dirasakan dan dibarengi dengan rasa kekhawatiran yang terus-menerus.

3. Kehidupan yang shalih di masyarakat

Falsalahnya yang akan diupayakan hidup seseorang harus bermanfaat bagi orang lain, hidupnya bagaikan pohon yang akarnya menghujam ke tanah, daunnya melindungi panas orang lain, dan buahnya bisa dinikmati masyarakat, menyadari sepenuhnya bahwa hidup di dunia ibarat tanah ladang untuk bertanam. Begitulah gambaran iman seseorang yang bisa berfungsi, sungguh mereka hidup mulia di hadapan manusia dan hidup muli di hadapan Allah. Maka akan terjadi gambaran sebaliknya, bila iman seseorang terhadap hari akhir tidak berfungsi, yang ditemukan dari mereka adalah, "bila orang lain senang maka dia merasa susah, tetapi bila orang lain susah dia justru senang". Naudzubillah min dzalik. Kita berlindung kepada Allah jangan sampai seperti itu.

PENUTUP

Akhirnya, telah selesai makalah kami membahas tentang sejarah hukum islam pada masa sohabat khususnya khulafaurrasyidin. Dalam penulisan makalah di atas, kami yakin banyak terjadi kesalahan-kesalahan penulisan ataupun kesalahan-kesalahan yang lain. Oleh karena itu, kritik dan saran tetap kami harapkan untuk pemperbaikan pada makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua dalam rangka menambah khazanah keilmuan kita, amin.

Daftar pustaka

§ Quraish, Moh. shyhab, wawasan alqur’an, 1996, jakarta: Mizan

§ http://www.fahmina.or.id/artikel-a-berita/artikel/116-takwa-dan-kepedulian-sosial-.html

§ Azzandany, Abdul Majid, Al Iman, 1997, Jakarta: Pustaka Alkausar

§ Sabiq, Sayid, Aqidah Islam, 1978, Bandung: Diponegoro

§ Maududi, Abul A’la, Dasar-Dasar Iman, 1986, Bandung: Pustaka

§ http://saef-jaza.blogspot.com/2009/05/iman-kepada-hari-akhir.html

§ http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/24/pesan-takwa-cak-nur/

§ http://osolihin.wordpress.com/2010/03/22/takwa-sampai-akhir

0 komentar: